Nasi Goreng Kambing Barokah
Minggu, 22 Juni 2008
 

“Nasi goreng yang enak tanpa berminyak” 

 

ImageNasi goreng dikenal sebagai santapan sejuta umat jakarta, bahkan mungkin se- Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Jakarta dapat kita temui nasi goreng. Tapi kalau nasi goreng yang satu ini selalu dikunjungi ratusan pelanggan setiap harinya. Apa bedanya? Mau tahu rahasianya? 

 

Tahun 1958 merupakan titik awal sejarah berdirinya usaha nasi goreng barokah yang dirintis oleh almarhum Bapak Haji Asngari. Sebagai orang asli tegal, alm. Pak Haji Asngari yang biasa dikenal dengan panggilan Pak Kumis ini memang sudah memiliki keahlian khusus dalam mengolah makanan. Keahlian tersebut tak disia-siakan, dan dituangkan dalam bentuk nasi goreng yang diramu dengan daging kambing. Image

 

Bagi pecinta nasi goreng kambing tahun 50-an sampai tahun 70-an tentunya lebih mengenal nasi goreng barokah ini sebagai nasi goreng Pak Kumis. Selain nasi goreng, olahan sop dan sate kambing juga menjadi andalan di tempat makan ini. 

 

Usaha yang kini dikelola oleh sang anak, Bapak Arief, tetap mengutamakan kualitas. dimana nasi goreng yang dibeli pelanggan dijamin masih dapat dinikmati sampai pagi hari. Sebagai salah seorang jamaah dari Ustadz Jefry Al Buchori dan Ustadz Subkhi Al Bughury, pak Arief selalu memegang prinsip dan keyakinan bahwa doa kepada sang Pencipta lah yang menjadi kunci utama keberhasilan usaha yang dijalaninya. 

 

Sop kambing dengan kuah segarnya, diracik dengan sedikit sambal sesuai selera menjadi andalan Pak Budi dan anaknya aditya. Terdapat beberapa menu andalan, seperti sate, bahkan kalau kita ingin menikmati es teler pun dapat  langsung dipesan dari warung tetangga. 

 

“Mas,  nasi goreng kambingnya lima porsi ya..”, ungkap Raymond sebagai pelanggan setia nasgor barokah. Bersama dengan Billy, Dylan, Guntur dan Melly yang dalam sebulan bisa 5 sampai 10 kali makan disini, mereka dengan lahapnya menikmati hidangan yang dengan cepat disediakan. Selain rasa yang sudah terjamin, lokasi strategis yang sangat nyaman untuk nongkrong menjadi kunci utama bagi pecinta kuliner ini untuk tetap menyantap makanan disini. “Disini jelas jelas bisa cuci mata, pokoknya asyik dah…”, jelas Guntur. 

 

Kata pepatah makanlah selagi hangat, jadi kalau lagi mau makan ya langsung jalan aja lai….!!!

 

Image

   

Users' Comments  
 

Average user rating

No rating

 


Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.8 © 2007-2017 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved